Senja. Sudut. Rumah
.
Di sore hari
itu, saya baru saja selesai menyapu rumah. Terdiam di teras untuk menikmati
langit sore.
Sebenarnya saya
bukan pecinta senja, penikmat senja, atau sebagainya. Tapi sore itu, langit
nampak indah dimata saya. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon yang telah
lapuk mampu membuat saya terpesona akan nikmat Sang Pencipta yang telah
diberikan pada kita.
Menganggumi hasil cipta darinya.
Menganggumi hasil cipta darinya.
Pikiran saya
berkelana bersama iringan matahari yang mulai ingin bersembunyi.
Saat ini banyak
kekhawatiran yang saya rasakan, kekhawatiran yang saya pikir memang wajar
dialami oleh orang seusia saya saat ini. Usia dimana, saya mulai menapaki
kerikil kehidupan.
Kekosongan yang
mengisi hari-hari saya, membuat saya merasa kecil, lemah, dan tak berdaya. Saya
merindukkan hari-hari sibuk, dimana saat sampai rumah saya merasa lelah dan
mendambai hari libur.
Manusia memang
aneh, pikir saya. Karena mereka menginginakan sesuatu yang tidak mereka punya.
Dan setelah punya, mereka kembali menginginkan sesuatu yang pernah mereka
punya.
Dan manusia itu
adalah, saya.
Ironi.
Namun untuk
mengambilkan rasa kepercayaan diri saya, dengan sekuat tenaga saya mulai
menanamkan pikiran-pikiran positif. Mungkin terlihat tidak menjanjikan,
memangnya dengan berpikir positif kemelut yang saya rasakan akan hilang?
Keinginan saya akan tercapai?
Tentu saja
jawabannya tidak.
Kemelut itu
tetap ada, keinginan saya tetap menjadi angan yang harus saya kejar dengan
pasti.
Namun, setidak
jiwa saya tenang. Hati saya tentram, raga saya damai.
Anggap saja
kekosongan saat ini adalah suatu hadiah untuk saya bisa bebas sebelum teringkat
dengan suatu hal nantinya. Kekosongan ini bisa saya isi dengan melakukan
hal-hal yang saya suka. Hal-hal yang tidak bisa saya lakukan di waktu sibuk
dulu.
Kosong itu bukan
hampa. Kosong itu bukan tak ada. Kosong adalah kebebasan. Kita bisa menjadi apa
saja saat kosong itu.
Komentar
Posting Komentar