Beauty Bullying





Beauty Bullying.

Issue ini sudah banyak sekali di bahas. Pun begitu, tetap saja banyak orang yang tidak menyadarinya kalau mereka sudah melakukan beauty bullying.
Waktu saya masih kecil dulu, saya cukup sering mengalami bullying mengenai fisik. That’s really hurt me. And I don’t what to do because what they say  it’s true; about my body.

Saya sangat insecure dengan apa yang saya miliki. Saya juga sering bertanya kenapa saya terlahir begini? My stupid thought, saya bahkan pernah ingin menjadi orang lain yang menurut saya fisiknya lebih sempurna dari saya.

That’s because, I’m short, chubby, have curly hair, and i have a scar above my lips. So, many people mock me ‘sumbing.’

Until now, saya masih sensitif apabila orang mulai membahas bekas luka saya itu.

It’s remainded me of the time when i was bullied.

The scar is not worth the ridicule of people against me.

Their words hurt more than the scars on my face. 
              
Saya tahu, orang-orang yang mengejek saya dulu tidak bemaksud untuk membuat saya sakit hati. Mereka hanya ingin bergurau dengan saya.  Karena orang-orang yang melakukan bullying itu adalah orang-orang disekitar saya. Dan saya tahu, mereka bukan orang jahat.

Saya cukup mengerti dulu campaign tentang beauty bullying tidak seramai sekarang. Dulu orang tidak terlalu aware tentang apa itu beauty bullying dan bagaimana dampaknya bagi mental seseorang.
Tapi, di zaman millineal sekarang seharusnya orang-orang sudah seharusnya memberikan perhatian pada permasalahan tersebut. 

Masa kanak-kanak, masa remaja, hingga umur saya yang sudah berada di fase dewasa awal. Saya cukup bangga dengan diri saya karena bisa melewati masa-masa itu dengan baik.

Setidaknya sekarang, saya tidak se-insecure dulu. Perlahan-lahan saya mulai belajar untuk mencintai diri saya sendiri. Belajar untuk menghargai diri saya sendiri.

Namun bagaimana dengan orang lain?

Kepala setiap orang berbeda-beda. Saya merasa beruntung memilih Jurusan Psikologi saat saya kuliah dulu. Karena dengan itu, saya menjadi lebih mengerti diri saya. Karena itu memang tujuan saya dari awal ingin masuk Psikologi. Belajar dari sanalah juga, saya mulai memahami betapa buruknya dampak bullying bagi seseorang.

Sekarang-sekarang saya tidak terlalu sepikiran dulu saat orang mulai mengomentari fisik saya. Namun bersikap cuek ternyata juga bukanlah tindakan yang benar.

Hal ini bermula dari saya yang ingin mengupload foto di instagram saya, dan saya bertanya kepada teman saya, foto mana yang bagus. Dan dia memilihkan salah satu foto dari dua foto yang saya berikan. Lalu setelah itu itu dia berkata, “yang itu bagus, tapi kamu chubby’an. Eh, iya kamu emang gendutan ya sekarang.”

God.

I just want her to choose a good photo for me, not comment on m body.

Mungkin bagi kebanyakan orang, itu bukanlah masalah. Tapi itu menjadi masalah bagi orang yang kamu komentari bentuk tubuhnya.

Saya hanya bingung, kenapa orang suka sekali mengomentari urusan orang lain?

Sangat kurang kerjaan bagi saya. Dan juga saya bingung, kenapa orang menjadikan fisik seseorang bahan candaan. Di saat hal itu sama sekali tidak lucu.

So guys, saya tidak mengatakan hal saya itu manusia lurus, suci, dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Karena terkadang, tanpa saya sadari saya juga masih melakukan beauty bullying pada orang lain. Maka dari itu, saya ingin orang-orang itu mulai perlahan-lahan untuk tidak melakukan itu.

Ayo, kita hargai orang lain supaya orang lain juga menghargai kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We All Wear Mask

Lonely Or Alone